On Time

Showing posts with label bau hujan. Show all posts
Showing posts with label bau hujan. Show all posts

Wednesday, August 10, 2011

untitled (i'm waiting for end of story)

ketika dia menyapa lagi
hatiku sesak
mendesak mencari tempat

ketika dia datang lagi
hatiku resah
temukan ruang tersisa





aku sayang kamu. 
aku pun begitu.
diakhiri dengan tangis, karena kisah mereka tragis.










- m i t a e -
setelah aku pulang

Thursday, May 12, 2011

Kembali

aku ingin kembali
seperti wanita karier 
harus menidurkan anaknya di rumah

aku ingin kembali
seperti perantau
membawa uang bagi kampungnya

aku ingin kembali
seperti pelari
merindukan kasur bagi badan letihnya

aku ingin kembali
pulang
ke tempat yang aku sebut rumah
kampung
tempat tidurku




aku masih mencarinya.



- m i t a e -
missing my self

Thursday, September 16, 2010

Petrichor: Why?

Petrichor (pronounced /ˈpɛtrɨkər/; from Greek petros "stone" + ichor the fluid that flows in the veins of the gods in Greek mythology) is the name of the scent of rain on dry earth.
The term was coined in 1964 by two Australian researchers, Bear and Thomas, for an article in the journal Nature.[1] In the article, the authors describe how the smell derives from an oil exuded by certain plantsabsorbed by clay-based soils and rocks. During rain, the oil is released into the air along with another compound, geosmin, producing the distinctive scent. In a follow-up paper, Bear and Thomas (1965) showed that the oil retards seed germination and early plant growth.[2]  during dry periods, whereupon it is

Bau hujan, demikian petrichor lebih dikenal dalam bahasa Indonesia. Sebuah kesenangan tersendiri bagi saya. Petrichor membawa harapan setiap kali panas menyengat tubuh mungil saya. 'Sebentar lagi dingin mengganti ini semua'. Tidak jarang panas membawa dampak yang lebih buruk dibanding dingin bagi tubuh dan jiwa saya. Baju basah karena keringat, pikiran mandeg menguap, wajah mengkilap minyak, perasaan gelisah tak tentu. Hujan, selalu memberi kesempatan (baca: memaksa saya) untuk merenung, berhenti sejenak.

Saya rindu berhenti sejenak tiap kali pikiran sibuk berputar menghadapi rutinitas. Kadangkala putarannya terlalu cepat ataupun lambat. Ketika berhenti, saya pun mengijinkannya untuk melayang jauh ke belakang atau pada hal-hal yang belum ada (tidak selalu yang saya inginkan). Saya senang ketika dia menggambarkan rupa seseorang atau suasana yang mungkin sulit diciptakan sekejap ada depan mata. Dalam perhentian itu, saya merasa bebas, bisa menjadi apa saja, dan menambah keyakinan bisa membuat apa saja.

Bau hujan, selalu menjadi harapan akan datangnya perhentian itu. 



Saya ingin memulai rutinitas berhenti hari ini. Hanya berharap blog ini mampu menjadi harapan bagi perhentian yang saya (dan anda) lakukan.





- m i t a e -
lega mampir sejenak